Bagi banyak penggemar fashion, leather tentu bukan hal yang asing. Leather adalah istilah yang dipakai untuk bahan yang dibuat dari kulit hewan melalui proses penyamakan, yaitu proses pengawetan menggunakan bahan kimiawi seperti tanin nabati dari kulit kayu, garam mineral (kromium sulfat), serta minyak ikan atau hewan lainnya. Dari proses penyamakan ini, kulit hewan diubah dari yang sebelumnya mudah rusak menjadi bahan yang tidak membusuk dan tahan lama.
Pembuatan kulit adalah seni kuno yang telah dipraktikkan selama ribuan tahun. Berawal dari teknik pengeringan dan pengawetan sederhana, proses penyamakan nabati dikembangkan oleh bangsa Mesir dan Ibrani sekitar tahun 400 SM. Menjelang abad ke-15, kegiatan penyamakan kulit sangat berkembang di Eropa, dan pada pertengahan abad ke-19, diperkenalkanlah mesin-mesin bertenaga mekanis untuk melakukan berbagai tahapan proses seperti pembelahan, pembuangan sisa daging, dan penghilangan bulu hewan.
Salah satu keunggulan kami adalah penggunaan bahan “vegetable tanned leather” atau yang biasa disebut “vegtan leather” atau kulit nabati dalam bahasa Indonesia, yang kami olah menjadi produk fashion bernilai tinggi, estetik dan unik. Apa itu kulit nabati dan hubungannya dengan lingkungan?
Kulit nabati dihasilkan dari proses penyamakan nabati, dengan menggunakan tanin (senyawa yang berasal dari tumbuhan seperti akar, kulit, daun dan buah) yang berfungsi untuk mengawetkan, memperkuat hingga memberi warna pada hasil akhir kulit. Proses penyamakan tradisional ini dilakukan dengan merendam kulit hewan di dalam larutan tanin hingga beberapa bulan sebelum mendapat hasil akhirnya, yaitu kulit nabati yang siap untuk digunakan.
Dari sini kita dapat melihat bahwa kulit nabati dihasilkan dari proses penyamakan alami yang bersifat ramah lingkungan dibandingkan dengan proses produksi kulit mayoritas yang ada di pasar global, yaitu dengan proses kimiawi menggunakan kromium sulfat. Dalam proses penyamakan ini, tingkat penyerapan kromium oleh kulit mentah berkisar antara 60–70%, sehingga menyisakan sekitar 30–40%-nya dalam limbah cair sisa proses penyamakan. Akibat tingginya konsentrasi kromium dalam air limbah tersebut, industri penyamakan kulit memiliki citra negatif yang berdampak pada makhluk hidup seperti gangguan pernapasan, kulit dan fertilitas.
Berikut poin perbedaan antara proses penyamakan modern (menggunakan kromium) dan penyamakan tradisional dengan bahan nabati.
1. Penyamakan kromium:
- Hanya memakan waktu 24 jam
- Menghasilkan kulit dengan kekuatan dan fleksibilitas yang sangat baik
- Menghasilkan warna kulit yang lebih bervariasi dan cerah
- Memberikan ketahanan terhadap air dan perlindungan terhadap panas yang baik
2. Penyamakan nabati:
- Membutuhkan waktu 2–6 bulan untuk penyelesaian menyeluruh
- Menghasilkan kulit dengan warna alami
- Menciptakan aroma khas “kulit” yang disukai banyak orang
- Menggunakan bahan yang sepenuhnya sustainable dan dapat terurai secara hayati (biodegradable)
Jadi, apa pendapatmu mengenai kulit nabati?
Penasaran dengan produk-produk kami yang menggunakan bahan kulit nabati? Temukan produk berlabel “Vegtan leather” di laman produk dan kenali perbedaannya 🙂
